Kisah Pemotong Batu
Dalam sebuah kisah, ada seorang pemotong batu yang kesehariannya bekerja dibawah teriknya Matahari, dan pada suatu ketika dia merasa tidak puas akan keadaan dirinya, kenudian diapun membatin, ”Betapa Senangnya dan berkuasanya matahari, Aku ingin jadi matahari”
Kemudian ia menjadi matahari, menyinari sawah-ladang dan setiap orang dengan teriknya, puaslah dia.....
Namun sebuah mendung besar berarak, sehingga cahayanya tak dapat lagi menyinari segala sesuatu yang berada di bawahnya, yang membuat menjadi kecewa, dengan ketidak-puasannyapun dia membatin “Betapa berkuasanya simendung itu, Aku ingin menjadi mendung”
Lalu ia menjadi mendung, menutupi sawah-ladang dan desa-desa, Namun ia merasa dirinya didorong oleh sebuah kekuatan besar, dan kemudian mengetahui bahwa itu adalah angin. Diapun membatin “Betapa berkuasanya dia, Aku ingin jadi angin”
Lalu ia menjadi angin, Tapi sejenak kemudian, ia menerpa sesuatu yang tak tergoyahkan betapa pun kuatnya ia meniupnya; sebuah batu raksasa yang tinggi menjulang.
Betapa berkuasanya batu itu bathinnya. “Aku ingin menjadi batu”
Betapa berkuasanya batu itu bathinnya. “Aku ingin menjadi batu”
Lalu ia menjadi sang batu , lebih kuat dari apapun di dunia ini. Namun ketika ia berdiri gagah, dari kejauhan didengarnya bunyi palu yang menghantam sebuah pahat ke dalam karang keras dan Ia melihat jauh di bawah sana dan tampak olehnya, ..... sosok seorang pemotong batu.
Dan kemudian iapun menyadari betapa hebatnya Si pemotong batu.
---------
---------
Betapa Sorga
Sangat Susah Didapatkan
Diceritakan
seorang Kyai Fulan yang sangat masyhur akan kealiman ilmun dan budi
pekertinya.
Suatu saat sang Kyai diundang kenduri oleh warganya, maka beliau bergegas menghadiri undangan tersebut dengan mengajak seorang Santri sebagai pendamping.
Jamuanpun dihidangkan Kyai juga tidak ketinggalan menikmati hidangan yang disediakan tuan rumah.
Selesai makan sang Kyai merasa ada "sesuatu" yang mengganggu pada giginya, ya ada sisa daging yang menyelilit, Setelah selesai sang Kyai segera pulang, tapi dia masih terganggu oleh slilit, karena terganggu maka sang Kyai berusaha mencari alat untuk menghilangkan slilit itu.
Di sebuah perkebunan beliau melihat pagar dari bambu, tanpa pikir panjang beliau memerintahkan santrinya untuk mngambil sebagian kecil bambu tersebut untuk digunakan menghilangkan slilitnya (tusuk gigi).
Waktu terus berjalan, kemudian sang Kyai Fulan meninggal dunia.
Suatu hari ditengah tidurnya, sang santri bermimpi bertemu dengan sang Kyainya .
"Assalamu'alaikum wahai Kyai!" kata Santri.
"Walaikum Salam santriku" Jawab Kyai.
"Gimana kyai apakah kyai sudah masuk sorga ?" Tanya santri penasaran.
"Oh santriku…, aku sudah menjalani banyak peradilan dan semuanya sudah terlewati, namun disaat aku mau masuk sorga pintunya terganjal kuat oleh bambu yang kupakai tusuk gigi untuk mengambil slilit sewaktu menghadiri kenduri bersamamu.
---------
Suatu saat sang Kyai diundang kenduri oleh warganya, maka beliau bergegas menghadiri undangan tersebut dengan mengajak seorang Santri sebagai pendamping.
Jamuanpun dihidangkan Kyai juga tidak ketinggalan menikmati hidangan yang disediakan tuan rumah.
Selesai makan sang Kyai merasa ada "sesuatu" yang mengganggu pada giginya, ya ada sisa daging yang menyelilit, Setelah selesai sang Kyai segera pulang, tapi dia masih terganggu oleh slilit, karena terganggu maka sang Kyai berusaha mencari alat untuk menghilangkan slilit itu.
Di sebuah perkebunan beliau melihat pagar dari bambu, tanpa pikir panjang beliau memerintahkan santrinya untuk mngambil sebagian kecil bambu tersebut untuk digunakan menghilangkan slilitnya (tusuk gigi).
Waktu terus berjalan, kemudian sang Kyai Fulan meninggal dunia.
Suatu hari ditengah tidurnya, sang santri bermimpi bertemu dengan sang Kyainya .
"Assalamu'alaikum wahai Kyai!" kata Santri.
"Walaikum Salam santriku" Jawab Kyai.
"Gimana kyai apakah kyai sudah masuk sorga ?" Tanya santri penasaran.
"Oh santriku…, aku sudah menjalani banyak peradilan dan semuanya sudah terlewati, namun disaat aku mau masuk sorga pintunya terganjal kuat oleh bambu yang kupakai tusuk gigi untuk mengambil slilit sewaktu menghadiri kenduri bersamamu.
---------
"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrahpun, niscaya dia akan
melihat (balasan)nya.
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula."
Betapa Sorga Sangat Mudah Didapatkan
Iman Kepada qodo' dan qodar
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula."
Betapa Sorga Sangat Mudah Didapatkan
Dikisahkan di tengah padang pasir di bawah terik matahari ada seorang
pelacur yang sedang kehausan. Setelah mencari air ke sana ke mari akhirnya
menemukan sebuah sumur. Dengan susah payah menggunakan sepatu dan kerudungnya
pelacur tersebut nerhasil mengambil air dari sumur, dan ketika hendak
meminumnya dilihatnya ada seekor anjing yang menjulurkan lidahnya karena sangat-sangat
kehausan, melihat hal itu dia mengurungkan untuk meminum air yang didapatkan
dengan susah payah dan memberikannya kepada sang anjing hingga habis diminumnya.
Pada akhirnya pelacur yang kehausan tersebut semakin lemah dan tidak
sanggup lagi mengambil air dari dalam sumur, dan karena kehausan yang sangat
maka akhirnya pelacur tersebut meninggal dunia. Akibat perbuatannya
tersebut maka Tuhan mengampuni dosa-dosanya dan memasukannya ke dalam surga.
Sabda Rasulullah SAW: "Sungguh seorang pria melihat anjing menjilat kotoran kering karena tidak tahan menahan haus dan tak menemukan air, maka lelaki itu mencabut sepatu kulitnya dan mengambil air dari sumur dan memberinya minum hingga puas, maka Allah berterimakasih padanya dan memasukannya ke surga" (Shahih Bukhari)
---------
Sabda Rasulullah SAW: "Sungguh seorang pria melihat anjing menjilat kotoran kering karena tidak tahan menahan haus dan tak menemukan air, maka lelaki itu mencabut sepatu kulitnya dan mengambil air dari sumur dan memberinya minum hingga puas, maka Allah berterimakasih padanya dan memasukannya ke surga" (Shahih Bukhari)
---------
Iman Kepada qodo' dan qodar
Rasulullah saw bersabda tiada seorang pun dari kamu yang dapat diselamatkan oleh amal perbuatannya. Sahabat bertanya: juga engkau Rasullah. Jawa nabi saw: dan tidak juga saya, kecuali jika allah meliputiku dengan rahmatnya, karena itu tepatkanlah amal perbuatanmu.(Bukhari, Muslim).
----------
Imran bin Hushain r.a/ berkata: Apakah sekarang ini sudah diketahui mana ahli sorga dan neraka? Jawab Nabi saw: Ya. Lalu ia bertanya: Lalu untuk apakah orang beramal? Jawab Nabi saw: Tiap orang beramal untuk apa yang telah dijadikan Allah bagi-Nya (untuk mencapai apa yang dimudahkan oleh Allah baginya). (Bukhari, Muslim)
-----------
Ali r.a. berkata: ketika kami mengikuti janazah di baqi’- algharqad, maka nabi saw. Sedang kami mengililinginya sedang nabi saw. Memegang tongkat kecil digunakan untuk menggorek- ngorek tanah lalu bersabda: tiada seorangpun dari kalian, bahkan tiada suatu jiwa manusia melainkan sudah ditentukan tempatnya di sorga atau neraka, nasib baika tau celaka. Seoarang bertanya: ya rasullulah, apakah tidak lebih baik kita menyerah saja pada ketentuan itu dan tidak usah beramal, maka jika ia untung akan sampai kepada kenutungannya, dan bila celaka maka akan sampai pada binasanya. Maka nabi saw bersabda: adapun orang yang bakal untung maka diringankan untuk mengamalkan untuk mengamalkan ahli sa’adah, sebaliknya orang yang celaka. Maka ringan untuk berbuat segala amal yang membinasakan. Kemudian nabi saw. Membaca: fa amma man a’tha wattaqa wa shadaqa bil husna (adapun orang yang suka menderma dan bertaqwa dan percaya pada kebaikan (sorga), maka akan kami mudahkan baginya segala amal kebaikan. Adapun orang bakhil dan merasa kaya (tidak berhajat) maka akn kami mudahkan baginya jalan yang sempit sukar. Dan tidak berguna baginya kekayaannya jika telah terjerumus. (Bukhari, Muslim).